Petualangan Arumi di Bengkulu

Petualangan Arumi di Bengkulu dihadiri oleh peserta dari berbagai latar belakang, seperti pendamping sebaya, kader masyarakat, puskesmas, bidan, anggota IPPI dan LSM lainnya. Dengan menggunakan buku “Petualangan Arumi,” diharapkan sebagai media dengan informasi yang baik bagi siapapun yang ingin mengetahui tentang prong 1 sampai prong 4. Buku “Petualangan Arumi” ini banyak diminati oleh petugas layanan kesehatan dan teman-teman komunitas karena bentuk isinya bergambar dan mudah dimengerti, selain pula merupakan adaptasi dari buku panduan PPIA yang disusun oleh Kementerian Kesehatan.

Pada setiap kegiatan lebih banyak diisi dengan diskusi dan pembagian pengalaman dari peserta maupun fasilitator. Advokasi yang dilakukan oleh kader IPPI terhadap pemerintah setempat dan layanan kesehatan diupayakan agar perempuan positif, ibu hamil positif, dan bayinya dapat mendapatkan layanan terbaik untuk mereka. Pelatihan ini juga berusaha membangun pemahaman peserta bahwa ODHA memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya. Selain itu, pertemuan ini juga memberi pemahaman bahwa pencegahan penularan virus HIV ke anak adalah tugas kedua calon orangtua, bukan hanya tugas calon ibu. Buku “Petualangan Arumi” dimaksudkan untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang prong 1 sampai dengan prong 4. Selama ini layanan kesehatan hanya berfokus di prong 3.

Kegiatan ini juga merupakan inisiasi membangun IPPI untuk pertama kali di Bengkulu. Diharapkan IPPI Bengkulu dapat berkembang dan bekerja sama dengan stakeholder dan menjadi wadah aman bagi perempuan positif di Bengkulu.

Ada banyak informasi yang didapatkan dari pertemuan dengan komunitas di lapangan. Petugas kesehatan mengeluhkan banyaknya pasien positif lost to follow up. Ada usulan-usulan untuk  mengajak Togatoma untuk mensosialisasikan berobat dari perspektif agama, kalau sudah tidak mempan, lalu mengajak pihak puskesmas atau Dinas Kesehatan. Dari hasi diskusi kemudian didapatkan bahwa pendamping tidak memaparkan lebih dahulu informasi terkait VCT dan pentingnya VCT. Pasien jangan sampai terputus minum obat, setidaknya ada kerabat yang dipercaya yang mengetahui status pasien untuk terus mengingatkan minum obat. Sebelum menghakimi, ada baiknya bila kita mencari tahu penyebab pasien tidak minum obat: tidak tahu status, tidak tahu bagaimana mengakses ARV, tidak tersedia layanan ARV di wilayah.

Ada pasien yang sudah AIDS, ketika didukung keluarga ia jadi sehat. Ketika kita menemukan orang yang positif, kita mencari keluarganya siapa yang dapat mendukung dia. Kalau suami, kalau kakak, adik, atau orangtua. “Ketika ini sudah bersatu, ini punya semangat. Memang kompleks masalahnya. Si pasangan juga harus kita kuatkan, yang mendampingi harus lebih kuat dari yang didampingi. Yang merawat pasien harus lebih kuat.” ucap seorang peserta.

Koordinasi di antara layanan kesehatan juga tak kalah penting. Puskesmas bisa membuat MoU di Dinas Kesehatan. Pendamping sering kasihan karena kelelahan mendampingi. Pasien harus dijemput diantar pulang. Tapi tampaknya pasien tidak ada semangat untuk berobat. Tidak punya kesadaran, apalagi kalau domisili pasien di kota. Padahal di dalam job desk tidak ada tertulis kalau pendamping punya tugas mengantar jemput pasien. Kadang-kadang petugas lapangan memperbudak dirinya sendiri. Pendamping memerlukan pengetahuan. Jadi pasien perlu tahu soal penyakitnya. Jadi pasien bisa memberi argumen sama dokter kalau didiskriminasi. Perlu juga keberanian untuk melawan jika ada diskriminasi.

Melalui kegiatan ini, para peserta memahami PPIA, mereka juga mendapatkan ilmu advoaksi tentang jalur-jalur yang bisa ditempuh untuk melawan diskriminasi layanan dan stigma terhadap ODHA, serta mampu mengidentifikasi layanan kesehatan terkait PPIA dari Prong I sampai Prong 4.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *