Hages, Berdamai dengan Kondisi Kesehatan Mental Part 1

Aku terinfeksi HIV di tahun 2006, tertular dari almarhum suami yang mana dia mantan pecandu. Sebenarnya 2 tahun sebelum menikah dia sudah berhenti dan bilang “udahlah gue mau taubat”. Tampaknya tanpa dia sadari, mungkin saat itu dia sudah terinfeksi. Setelah menikah baru banget 40 hari aku melahirkan tiba-tiba dia ngedrop. Dan dalam dua minggu prosesnya cepet banget dia langsung wasting syndrom. Penurunan berat badannya drastis dan jamur di mulutnya udah penuh banget. Lalu pada saat di cek darah itu semuanya positif. Akhirnya dokter asesmen lebih lanjut, karena mungkin kan sudah ada ciri-ciri gelaja jadi dokter curiga.

Lalu dokter Tanya “pernah gak pakai narkoba suntik terus jarumnya bergonta-ganti sama temen lainnya atau gonta-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom?”, dengan pedenya dia bilang, “oh pernah tapi dulu sebelum saya nikah, udah jauh banget saya tinggalin udah lama banget”, lalu dokternya nanya lagi “kalau dites HIV siap gak?”, “siap siap!!” dengan pedenya. Ternyata setelah dicek hasilnya positif, mewek-mewek lah dia disitu. Saat itu aku kondisinya lagi kerja, terus dia nelpon ngasih tahu kalau dia positif HIV. Perasaannya saat itu entah kaget atau sedih atau gimana nggak tau ya, kayaknya aku nggak inget jadi ngeblank aja.

Waktu itu aku sama sekali nggak ngerti HIV. I have no idea what is HIV. Mungkin karena ketidaktahuan kali ya, jadi aku nggak ada rasa ketakutan atau apa gitu, jadi bloon banget deh dulu, jadi responku cuma “oh ya udah terus kenapa?”. Akhirnya aku ke rumah sakit, temuin dokternya, minta aku untuk dicek juga tanpa tahu HIV itu apa dan ternyata hasilnya positif, dokternya bilang “kamu yang sabar ya..”, terus aku cuma yang “oh iya oke” gitu.

Dan yang syok itu orangtuaku sampai nangis-nangis dan aku bilang gini “kenapa sih sampe segitu lebaynya? Emang menakutkan ya HIV itu?” benar-benar nggak tahu sama sekali. Dan akhirnya ayahku kasih tahu “kamu tahu nggak? Itu tuh penyakit yang paling mematikan! Paling bahaya! Itu aib keluarga dan itu penyakit kutukan!” dan apalah segala macam, aku cuma bengong aja dengerin dia tentang HIV itu. Dan akhirnya aku mencari tahu sendiri tentang HIV itu di rumah sakit sambil ayahku marah-marah sama suamiku dan akhirnya aku dipisahin sama orangtuaku, karena merasa anaknya dibohongi gitu dan nggak jujur dari awal, pokoknya ayahku kecewa beratlah. Terus kurang lebih tiga bulan kami pisah, suamiku makin drop tahu aku positif dan anakku sakit. Anakku Sempat dicek juga dan hasilnya positif juga.

Waktu itu anakku usianya Tiga bulan. Pas tahu hasilnya positif juga. Disitu aku baru ngerasa syok tentang HIV. Karena aku udah mulai cari-cari tahu kan dan edukasi dulu itu nggak kayak sekarang. Dulukan masih menakutkan semua informasinya. Bahkan disitu ada buku yang menyatakan kalau kita sudah terinfeksi HIV usia kita nggak akan lebih dari tiga tahun. Aku sempat baca itu tapi lupa nama bukunya. Jadi yang ada dibenakku satu generasi hilang, suamiku, aku dan anakku. Karena waktu itu aku lagi menyusuikan ngasih asi. Jadi dokter ngasih tahu, anak itu bisa terinfeksi melalui dari proses kehamilan, melahirkan dan menyusui. Dari situ aku baru deh ngerasa kayak orang gila. Tapi dokternya menguatkan bahwa “ini yang terdeteksi masih imun ibu. Anak dibawa 18 bulan itu belum punya imun sendiri, jadi ini yang terdeteksi masih imun ibunya jadi ibu nggak perlu khawatir…” gitu pokoknya. Ya aku berusaha tegarlah, Tapi suamiku nggak bisa terima.

Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti minum obat. Dia waktu itu kondisinya udah lumpuh setengah badan dan dia bilang “gue nggak bisa terima semuanya. Lu sakit, anak kita sakit itu semua karena gue. Jadi lu harus ikhlas kalau gue mau stop semuanya (pengobatan segala macam)” dan aku bilang “ayok, sebenarnya kita harus sama-sama survive” tapi dia bilang “lu harus menghargai apa yg jadi keputusan gue”, disitu aku kayak nggak dikasih pilihan. Padahal aku pengen dia punya daya juang untuk menguatkan aku juga, tapi ternyata nggak.

Dan dua bulan kemudian dia meninggal. Meninggalkan gitu aja dengan virus yang ada di dalam tubuhku. Saat itu kondisi layanan kesahatan di Jakarta sudah pada oke, tapi memang informasinya tidak seperti sekarang. Dulu informasi yang disampaikan cukup mengerikan kepada teman-teman ODHA. Seperti dilarang menikah, punya anak dan sebagainya, dan hanya disuruh fokus untuk ibadah. Dan karena CD4 ku masih tinggi jadi aku nggak langsung minum obat, tapi enam bulan sekali aku cek CD4 dan viral Load. VL aku tetap tinggi karena aku nggak minum obat ARV.

Sebelumnya tuh aku selalu berdoa untuk minta semua penyakit anakku ke aku aja biar cuma aku aja yang rasain. Lalu pas dicek dan tau hasilnya negatif aku langsung sujud syukur dan aku jadikan ini sebagai titik balikku untuk bangkit. Aku harus bisa tunjukan ke keluarga bahwa aku bisa survive. Sebelumnya aku nggak mau kerja, nggak mau ketemu orang, tapi setelah liat hasil anakku negatif dan Tuhan seperti memberikan kesempatan kedua. Saat itu aku lihat tatapan anakku yang seperti merasakan apa yang aku rasakan, dan dia seperti bicara, “I still need you mom” untuk survive dan membesarkan dia seolah-olah dia bicara seperti itu dan aku langsung oke nggak boleh cengeng aku harus kerja, aku harus bangkit dan harus tunjukan ke keluarga kalo aku bisa survive.

Jadi 4 tahun survive dengan HIV dengan keadaan kondisi baik-baik aja, sehat walafiat tanpa kurang satu apapun dan orang juga nggak ada yang tahu kalau aku HIV. Lalu tiba-tiba di tahun 2010 aku ngedrop diare hebat, 1 hari bisa sampae 30 kali buang air besar, bahkan cuma batuk aja keluar, akhirya aku minta dirawat. Setelah dirawat, segala macam penyakit itu udah ada didalam tubuh semua dan ternyata aku udah ditahap AIDS stadium 3. Alhamdulillah semua bisa aku lalui itu karena ibu. Jadi waktu itu ibuku yang mengurusi aku. Saat itu aku masih janda, hidup berdua sama anakku. Dan ibuku sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih selama aku dirawat tujuh hari di rumah sakit. Dia yang menegarkan aku bahwa aku bisa sehat lagi, bisa sembuh lagi, harus sehat. Terus akhirnya aku disarankan untuk terapi obat ARV, tapi sebelum terapi pastiin selama tujuh hari dirawat infeksi oportunistik dihajar-hajarin sama obat-obatan. Dan setelah mulai pulih, barulah aku terapi ARV di 2010, dengan didukung ibu.

Saat itu aku sama sekali ga bergabung dengan KDS. Aku dulu pernah beberapa kali disamperin orang KDS. Dan begitu ketemu sama mereka, 14 tahun yang lalu itu kalau ketemu teman-teman ODHIV dan ODHA itu bentuknya kayak zombie semua, serem banget. Kalau sekarang kan nggak keliatan. Dan dulu ketentuannya kalau CD4 nya belum dibawah 200 belum dapat ARV jadi harus drop dulu kan, jadi mau nggak mau aku ketemu sama teman-teman ODHA yang badannya itu udah abis, udah di kursi roda, yang udah hancur badannya dan itu mengingatkan kalau aku sakit. Jadi aku udah nggak mau ketemu sama mereka malah yang ada jadi trauma. Karena aku harus healing sama diriku sendiri, nggak butuh deh KDS-KDS-an, tapi di tahun 2010 ketika aku sakit, yang luar biasa adalah justru aku dijenguk sama anak-anak KDS, setiap hari dikasih support. Dari situ doaku berubah lagi aku bilang “Tuhan kalau aku dikasih kesempatan hidup kedua berikanlah aku jalan, gimana caranya agar aku bisa menolong sesama ODHA seperti mereka, entah gimana caranya biarkan itu semua mengalir berproses”.

Saat itu aku sama sekali gak ingin menikah meskipun pernah beberapakali dekat. Tapi setiap kali pasanganku ngajak nikah, aku kabur. Tapi aku sama pasangan-pasanganku selalu jujur kalau aku HIV positif. Kalau mau terima syukur, kalau nggak yaudah. Walaupun mereka negatif (HIV). Aku lebih ga siap kalau harus menikah lagi.

Aku memutuskan untuk menikah itu bukan karena diriku, tapi dari anakku yang semakin besar, butuh biaya yang juga besar dan aku nggak sanggup sendirian, dan dia butuh sosok. Dia bilang sama aku “mam aku nih ya melek mata liat kamu, nganterin sekolah sama kamu, belajar sama kamu, ke mall sama kamu, semua-semua sama kamu. Udah kamu nikah lagi gih” katanya gitu, dan itu anak umur lima tahun bisa ngomong begitu dan terus aku bilang “ok kita cari daddy di mall kali ya.. kalau misalnya ada yang paling mahal, kita cari yang paling mahal karena pasti kualitasnya lebih bagus”, dia jawab “kayak mainan ya mam.

Tapi bener deh mam kayaknya kamu butuh orang lain, karena aku capek liat kamu kerja, trus pulang kerja kamu ngurusin aku sendirian, kayaknya kamu butuh orang lain”. Jadi anakku justru yang menyadarkan aku. Kebetulan saat itu aku lagi dekat sama orang yang HIV positif juga. Nggak tahu kenapa dia yang paling diterima sama keluargku. Jadi dulu setiap mantan-mantanku datang bawa mobil, tajir melintir ayahku datar-datar aja. Tapi giliran dia, datang pakai baju PNS pakai motor mio, tiba-tiba datang ke rumahku dan ya udah mengalir begitu aja. Terus anakku bilang “aku nyaman deh sama om bud, kamu nikah aja sama om bud”, terus aku bilang “nggak sama om om yg lain aja?”, “hmm kayaknya dia Cuma mencintai kamu doang, nggak mencintai aku”. Mungkin karena aku berhubungan sama orang-orang yang belum nikah, kalau yang ini kan dia duda, jadi sama kayak aku. Dan 2011 menikah.

Bersambung ke Part 2.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021 © Ikatan Perempuan Positif Indonesia