Penggunaan Kondom untuk Pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduktif

 

The 2nd ICIFPRH sesi “Promoting Condom as Dual Protection for STIs/HIV and Unwanted Pregnancy.”
Dokumentasi: IPPI

Yogyakarta. 25 Agustus 2022.

Kondom, baik itu untuk perempuan ataupun untuk pria mempunyai fungsi proteksi ganda yaitu sebagai pelindung dari kehamilan yang tidak diinginkan dan menghindarkan penularan IMS dan atau HIV. Tetapi, masih banyak orang, terutama pria, enggan menggunakan kondom karena terpengaruh oleh berbagai mitos yang keliru. Penggunaan kondom pria di Indonesia belum mencapai hasil yang maksimal. Data Perkembangan penggunaan kondom pria dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dilansir dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007-2017 kenaikannya masih sangat rendah. Yakni yang awalnya berada di angka 2.14%  di 2007 menjadi 4% di 2017. Deputi BKKBN, Prof. drh. M Rizal. M. Damanik, M.Rep.Sc, Ph.D dalam salah satu sesi kegiatan The 2nd ICIFPRH memaparkan beberapa hal yang menyebab lambatnya kenaikan angka tersebut, yaitu;

  1. Akses dan muatan dan pesan program Keluarga Berencana yang belum secara optimal. Masih ada anggapan bahwa program Keluarga Berencana hanya untuk perempuan.
  2. Kesenjangan akses informasi mengenai Keluarga Berencana di berbagai daerah.
  3. Informasi yang tidak akurat mempengaruhi keputusan pria dalam menggunakan kondom.
  4. Peran pelayanan kesehatan dan konseling Keluarga Berencana masih perlu ditingkatkan.

 

Saat ini, di Indonesia kondom bisa dibeli dengan variasi yang lebih banyak,  baik dalam segi bentuk, warna, maupun rasa. Dalam hal bentuk, kondom bisa berupa kondom biasa, bergerigi, bersungut, berambut, baggy dan sebagainya. Dalam segi warna, kondom saat ini memiliki bervariasi warna. Sedangkan dalam hal rasa, kondom dapat memiliki rasa buah-buahan, cokelat, mint, dan lain-lain. Fajar Yudho Baskoro, Direktur Utama PT. Mitra Rajawali Banjaran, perusahaan yang mengimpor kondom ke Indonesia menjelaskan bahwa hal ini dilakukan selain untuk memberikan variasi alternatif untuk orang-orang yang ingin menggunakan kondom agar tidak bosan, tetapi juga agar citra kondom menjadi lebih menyenangkan dan ramah.

Saat ini semua kondom yang beredar di Indonesia semuanya masih diimpor dari luar negeri. Kondom dengan merek Sutra, yang notabene dikenal sebagai “kondom dari Indonesia” sendiri sebetulnya masih diimpor ke Indonesia dari Thailand, ucap Fajar Yudho Baskoro.

Tidak hanya menyoal penggunaan kondom pria, keterlibatan pria di dalam program ASI eksklusif juga masih rendah. Informasi yang beredar mengenai ASI eksklusif masih terpusat ditujukan kepada perempuan. “Padahal keikutsertaan pria ataupun pasangan merupakan poin yang signifikan dalam kesuksesan program ASI eksklusif,” tambah Prof. drh. M Rizal. M. Damanik.

Selain pelibatan pria yang belum maksimal, ketersediaan dan kondom terutama semenak pandemik Covid-19 juga menjadi masalah. Banyak ibu-ibu dan juga pria yang sulit untuk pergi ke pelayanan kesehatan karena kebijakan pemerintah yang mengharuskan mereka tidak bepergian ke keramaian. Distribusi kondom di berbagai daerah pun menjadi terhambat karena kekurangan pekerja.

Anehnya, kondom yang yang masih tersedia sebagai alat pencegahan IMS dan HIV yang masih banyak tersedia tetapi tidak bisa diakses ketika akan digunakan sebagai alat kontrasepsi. Meirinda Sebayang, Ketua Sekretariat Nasional Jaringan Indonesia Positif menyayangkan kebijakan ini, “Kenapa kondom untuk pencegahan IMS/HIV dan kondom sebagai alat kontrasepsi itu dibedakan? ‘Kan sama-sama kondom?”

Saat ini BKKBN mulai memasukkan pelibatan pria sebagai indikator kinerja kesuksesan di dalam kebijakan untuk meningkatkan akses dan kualitas penyelenggaraan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi yang komprehensif berbasis kewilayahan dan segmentasi kelompok masyarakat. Peningkatan integrasi dan sinkronisasi penggerakan dan pelayanan KB, jaminan pembiayaan dan penggerakan, serta akses dan kualitas pelayanan KB pria di berbagai daerah juga menjadi strategi yang digunakan. Selain itu, BKKBN juga membangun kerja sama dengan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari media massa dengan sehingga adanya kenaikan yang signifikan, terutama keterlibatan pria sehingga pemenuhan HKSR menjadi lebih baik. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan percepatan Indonesia mencapai salah satu dari 3 Zeroes di The 2nd ICIFPRH, yaitu nol tidak terpenuhinya kebutuhan Keluarga Berencana.

 

Ditulis oleh Indra Nugroho, Staf Media IPPI.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021 © Ikatan Perempuan Positif Indonesia