Laporan Mini Study SRHR Papua

Ikatan Perempuan Positif Indonesia dan Fokus Muda melakukan penelitian kecil untuk mengidentifikasi isu-isu seputar Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi di tanah Papua, terlebih di kalangan orang muda Papua. Hal ini didorong oleh kegiatan Training of Trainers untuk orang muda yang dilakukan oleh IPPI bersama Fokus Muda pada tahun 2018. Orang-orang muda ini dilatih dan dipersiapkan untuk menjadi trainer isu HKSR untuk komunitas mereka. Rangkaian kegiatan ini merupakan implementasi dari program kolaboratif di antara beberapa mitra dan dibiayai oleh AIDSFONDS melalui program PITCH.

Latar Belakang dan Tujuan

Peningkatan pemahaman terkait informasi HKSR pada komunitas merupakan salah satu upaya yang sangat penting dalam penanggulangan AIDS. Pemilihan Papua sebagai daerah intervensi program PITCH bukan tanpa alasan. Menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan sampai dengan triwulan ke-4 tahun 2017, tercatat ada 29.083 infeksi baru HIV dan 19.729 kasus AIDS di propinsi Papua dengan case rate mencapai 620.56, angka ini jauh di atas case rate nasional yang hanya 36.1.

Berdasarkan kegiatan tersebut, IPPI dan Fokus Muda melakukan mini study melalui Focus Group Discussion guna menggali upaya advokasi, fakta, kebutuhan dan tantangan bagi para pemuda Papua menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR).

Adapun tujuan dari mini study ini adalah sebagai bahan evaluasi bagi IPPI dan Fokus Muda untuk dapat melakukan program-program selanjutnya sehingga dapat merancang program-program yang lebih tepat sasaran dan bermakna. Selain itu, mini study ini juga diharapkan dapat menggambarkan situasi terkini terkait HKSR di Provinsi Papua pada umumnya, khususnya  daerah Sentani, Jayapura, dan sekitarnya.

Metode Penelitian

Panduan pertanyaan yang disusun oleh fasilitator terdiri atas 15 pertanyaan, dari pertanyaan-pertanyaan tersebut ada beberapa bagian dimensi yang ingin dikupas oleh IPPI dan Fokus Muda, di antaranya:

  1. Sebaran informasi bagi komunitas;
  2. Kualitas informasi HKSR;
  3. Dampak informasi HKSR bagi kehidupan dan penanggulangan HIV;
  4. Peran serta masyarakat dan petugas kesehatan
  5. Tantangan;Stigma dan diskriminasi; dan
  6. Isu terkait

Lokasi mini study yang dpilih dalam pengambilan sampling kali ini adalah Provinsi Papua, khususnya di daerah Sentani dan Jayapura, sesuai dengan kegiatan ToT yang dilakukan sebelumnya.

Pengumpulan data dalam studi ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok dengan berpedoman kepada pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun oleh fasilitator sebelumnya dan ditanyakan oleh 3 orang fasilitator kepada para peserta. 

Pengambilan sampel dalam mini study ini terdiri dari satu kelompok besar yang target pesertanya adalah kelompok pemuda Papua yang berusia antara 15 – 25 tahun. Peserta FGD berjumlah 11 orang, yang berisikan 10 orang remaja dan 1 orang pekerja seks.

Hasil Penelitian

Dari 11 orang peserta FGD, terdapat 10 orang pemuda Sentani dan Jayapura yang berusia 17 – 25 tahun, sementara 1 orang lainnya berusia di atas 25 tahun yang berasal dari kelompok pekerja seks di Papua. Dari 10 orang pemuda Papua yang menjadi peserta FGD, 4 orang di antaranya merupakan perempuan yang berusia 17–25 tahun.

Dari 11 peserta yang mengikuti FGD ini, hanya 2 orang yang pernah mendapatkan informasi HKSR selain yang diadakan oleh IPPI dan Fokus Muda beberapa hari sebelumnya. 2 orang tersebut mendapatkan informasi HKSR dari gereja setempat dan dari LSM yang bekerja dalam program penjangkauan populasi kunci di Provinsi Papua. Sementara sisanya baru saja mendapatkan informasi dari IPPI dalam kegiatan TOT beberapa hari sebelumnya.

Dari FGD  tersebut terungkap bahwa ada dampak yang dirasakan bagi para peserta, baik yang sudah pernah mendapatakan informasi maupun yang baru mendapatkan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh IPPI dan Fokus muda melalui proram PITCH. Ada beberapa hal yang terungkap dari kegiatan ini terkait dampak pengetahuan HKSR, di antaranya:

  • Lebih paham untuk merawat dan menjaga kesehatan dan diri
  • Bisa berbagi ke teman sebaya di sekolah & di lingkungan rumah
  • Memahami isu HIV secara lebih komprehensif
  • Menurunkan stigma tentang ODHA
  • Terdorong untuk berani VCT
  • Dapat menilai kehidupan di waktu lampau
  • Mendorong untuk melakukan perubahan perilaku

Namun mereka mengaku kurang bisa mentransfer informasi yang mereka dapatkan kepada teman sebaya ataupun komunitasnya karena masih dianggap tabu oleh masyarakat sekitar untuk membicarakan hal-hal seputar HKSR, terutama tentang HIV/ AIDS. Para peserta mengutarakan bahwa mereka tidak banyak mendapatkan informasi terkait HKSR dari petugas kesehatan.

Ada hal menarik yang kami temukan dari kegiatan FGD kali ini, bahwa telah dilakukannya upaya advokasi yang dilakukan oleh komunitas young key population kepada DPRD setempat. Peserta tersebut juga mengemukakan tentang adanya kebutuhan tenaga kesehatan dari kalangan anak muda sehingga dapat lebih memahami dunia anak muda.

Ada pula yang kebutuhan akan pengetahuan tentang bagaimana cara untuk menyuarakan hak-hak dan kebutuhan mereka sebagai anak muda Papua, mereka sangat ingin berbicara namun mereka tidak mengetahui bagaimana caranya dan harus mengutarakan pendapat mereka kepada siapa.

Ada banyak sekali tantangan yang dihadapi komunitas dalam proses penyebarluasan informasi tentang HIV khususnya HKSR bagi teman sebayanya, komunitas maupun bagi masyarakat umum, terungkap dari jawaban-jawaban yang dikemukakan para peserta FGD kali ini.

 Salah seorang peserta mengungkapkan pengalamannya ketika melakukan Problem Based Learning dengan turun langsung kepada masyarakat saat dia menjadi siswa dari sebuah sekolah lanjutan kesehatan bahwa sulitnya membuat masyarakat paham akan tindakan pencegahan. Kurangnya kesadaran akan health seeking behavior membuat pencegahan melalui program pemerintah melalui promosi kesehatan belum dapat dirasakan dampaknya.

Perlakuan stigma dan diskriminasi masih sangat dirasakan oleh para pemuda ini, bukan hanya dalam hal mendapatkan informasi terkait HKSR namun juga dalam mengakses layanan kesehatan. Bahkan perlakuan tersebut bukan hanya datang dari masyarakat umum karena memang kurang mendapatkan informasi yang tepat, namun ironinya malah perlakuan ini justru datang dari petugas pada layanan kesehatan itu sendiri. Bahkan terkadang, hanya sekedar membicarakan HIV/ AIDS pada keluarga pasien, dapat mengancam keselamatan jiwa.

Isu ketidaksetaraan gender pun turut terkuak dalam pelaksanaan FGD kali ini, terkadang bila seorang perempuan ditemukan positif HIV maka akan diposisikan menjadi pihak yang sangat bersalah karena telah membawa virus penyakit kedalam keluarga, padahal bukan hal yang tidak mungkin bila virus tersebut datang dari perilaku seks sang suami di luar rumah.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Dari hasil mini study (FGD) ini, dapat diambil kesimpulan bahwa penyebaran informasi terkait HKSR di kalangan populasi kunci dan komunitas muda masih sangat minim dan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk dilakukan baik oleh pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil. Hal ini dapat terlihat dari kesenjangan pengetahuan yang disebabkan oleh tidak adanya pendidikan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) yang komprehensif di kalangan usia remaja di Papua. Walaupun sudah pernah diberikan namun materi yang disampaikan tidak menyeluruh dan masih ada hal-hal yang dianggap tabu untuk disampaikan.

Dengan diberikannya pendidikan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi oleh IPPI dan Fokus Muda, mulai terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih positif dari para peserta yang telah mendapatkan pendidikan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi. Dapat pula disimpulkan bahwa informasi yang diberikan oleh IPPI dan Fokus Muda dapat membantu tercapainya 3 zero dimana angka kunjungan di layanan dapat ditingkatkan seiring meningkatnya kesadaran remaja dan populasi kunci mengenai HKSR.

Untuk mengunduh penelitian, klik Laporan Mini Study SRHR PAPUA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *