Absen Seksual

Seks bukan segalanya tetapi segalanya tiada tanpa seks. Premis ini mengacu pada fakta; manusia bukan mahkluk aseksual dalam urusan reproduksi. Tinjauan filosofis melalui teori bioseksual Maslow dan psikoseksual Freud adalah referensi lain untuk mengafirmasi hal ini.

Dalam perkembanganya, seks kemudian mengalami berbagai deviasi yang dikenal sebagai penyimpangan seksual, dari pedofilia sampai necrophillia. Sementara variasi seks dianggap sebagai modifikasi kenikmatan seksual yang wajar. Ketika pemenuhanya menemui distorsi, lahirlah kekerasan seksual dengan berbagai fenomena, baik modus pelaku, sasaran serta dampak bagi korban. Kekerasan seksual yang setua peradaban, yang seakan menjadi keseharian penghuni bumi ini, mengindikasikan betapa vitalnya pemenuhan kebutuhan alat vital itu. Komnas Perempuan merilis, terjadi 91.311 peristiwa kekerasan seksual sepanjang tahun 1998 – 2010. Jika ini puncak gunung es, terbayang isi perut bumi dengan bahaya bergesernya lempeng dan patahanya, bukit-bukit berikut ancaman longsor atau bibir-bibir pantai tanpa mitigasi tsunami.

Dampak buruk fisik dan psikis dari kekerasan seksual yang masih masif, menuntut solusi cerdas demi menekan prevalensi penyakit sosial kronis ini. Hukum formal-normatif, mitos primitif, tata krama, karma-darma, denda adat istiadat sampai kecaman tokoh dunia dan seruan suara malaikat lewat pemimpin agama tak juga berdampak signifikan. Pendidikan seks usia dini sampai hari ini belum mampu menghalau galau buaya darat yang mengintai kemolekan kawanan pesolek di segala kawasan. Menyadari sulitnya mensucihamakan peradaban ini dari kebiadaban penjahat kelamin, maka langkah aman yang (mesti) diamini bersama adalah mencegahnya. Meminjam rumus disaster managemen, dimana disaster = hazard x vulnerability (Sastra Atmaja,2014), maka mengenal tanda bahaya dan mengurangi tingkat kerentanan merupakan kuncinya. Menyitir Charles Kettering, bahwa suatu masalah yang diketahui dengan jelas, sudah separuh diatasi, sehingga penting untuk mengenal bentuk, jenis dan modus sebagai antisipasi kekerasan seksual.

Salah satu bentuk kekerasan seksual yang jauh dari hingar-bingar perbicangan para peri gosip, ramainya pemberitaan media,panasnya diskursus kaum cendikia dan senyap dari teriakan konvoi aktivis adalah absen seksual. Termasuk di dalamya pembatasan kuantitas, penurunan kualitas sampai dengan peniadaan hubungan seksual. Absen seksual cenderung menimpa pasangan yang tidak lagi harmonis berlatar sosial, ekonomi atau medis. Bentuknya samar dalam kamar berhias kamuflase lazim predator yang mudah dibaca korban namun sulit berkelit dari lilitan situasi pelik. Napsu semu dan orgasme palsu adalah bentuk kekerasan seksual berbalut kemesraan, diiringi irama romantis Killing Me Softly-nya Beyonce.

Jika kekerasan seksual fisik akan merusak ke dalam jiwa, maka absen seksual sebagai kekerasan seksual psikis merusak dari dalam ke luar. Keduanya bermuara pada perubahan perilaku, penurunan produktivitas, gangguan jiwa, bahkan bunuh diri. Untuk puasa saling memuaskan masing-masing pasangan, baik temporal atau permanen dengan alsan yang disepakati lalu diterima kedua belah pihak, tentu saja tidak masuk kategori ini.

Bahwa abstinence dalam konteks ABC sebagai benteng kokoh penangkal agresi pasukan sekutu; HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainya bukan sebuah keniscayaan, karena hubungan seksual bukan satu-satunya jalan penularan. Untuk itu, apresiasi layak disematkan pada dada ODHA yang gagah berani, tampil dengan testimoni harmoni kehidupan rumah tangganya. Terlebih mereka yang mengetahui pasanganya didiagnosa positif HIV/AIDS, ali-alih menghindari ranjang, malah merancang kama sutera sebagai sentral energi kebangkitan mental pasanganya yang luluhlantak.

Kita butuh lebih banyak pemberani untuk mendobrak stigma bahwa ODHA adalah ‘Orang Dengan Hidup Absen’ seksual. Kita perlu peluru testimoni, bahkan publikasi seremoni pernikahan pasangan ODHA yang hidup harmonis, romantis dan punya anak tak tertular HIV. Kita menanti konfirmasi praktisi keshatan tentang hasil test negatif dari ODHA yang patuh pada titah; bertobat, berobat dan bersahabat. Salam Hangat.

Credit to Sirilus Selaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *